Media sosial telah mengubah cara manusia menerima informasi. Setiap hari, jutaan konten berlalu-lalang di layar ponsel, mulai dari berita penting hingga hiburan ringan. Di tengah arus informasi yang deras ini, muncul satu fenomena sosial yang semakin kuat: Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan informasi.
FOMO membuat masyarakat merasa harus selalu terhubung. Ketika sebuah topik menjadi viral, banyak orang terdorong untuk ikut membaca, menonton, atau membagikannya—bahkan sebelum memahami kebenarannya. Dorongan ini bukan hanya soal rasa ingin tahu, tetapi juga kebutuhan sosial untuk tetap relevan di lingkungan digital.
Media Sosial sebagai Pemicu FOMO
Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) dirancang untuk menampilkan konten populer secara cepat. Algoritma akan mendorong konten yang sedang ramai agar menjangkau lebih banyak pengguna. Akibatnya, satu video atau unggahan bisa mendominasi linimasa dalam hitungan jam.
Notifikasi, trending topic, dan fitur “For You” memperkuat rasa urgensi. Pengguna merasa jika tidak segera membuka aplikasi, mereka akan tertinggal dari percakapan publik yang sedang berlangsung.
Dampak Positif Fenomena FOMO
Di sisi positif, FOMO membantu penyebaran informasi penting dengan cepat. Isu sosial, bencana alam, hingga kampanye kemanusiaan dapat memperoleh perhatian luas dalam waktu singkat. Partisipasi publik pun meningkat karena masyarakat merasa terdorong untuk ikut terlibat.
Selain itu, FOMO juga membuka peluang bagi kreator konten dan media digital untuk berkembang lebih cepat. Konten yang relevan dan menarik dapat menjangkau audiens luas tanpa biaya besar.
Dampak Negatif yang Perlu Diwaspadai
Namun, FOMO juga membawa risiko. Banyak orang membagikan informasi tanpa verifikasi hanya karena takut dianggap tidak update. Hal ini mempercepat penyebaran hoaks dan informasi menyesatkan.
Secara psikologis, FOMO dapat memicu stres dan kecemasan. Tekanan untuk selalu mengikuti tren membuat sebagian orang sulit beristirahat dari media sosial, bahkan kehilangan fokus pada kehidupan nyata.
Menyikapi FOMO secara Bijak
Kesadaran digital menjadi kunci. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua informasi harus dikonsumsi secara instan. Memilih sumber tepercaya, membatasi waktu penggunaan media sosial, dan memprioritaskan kualitas informasi adalah langkah penting.
Fenomena FOMO tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dapat dikelola. Dengan sikap kritis dan bijak, media sosial tetap bisa menjadi alat informasi yang bermanfaat tanpa mengorbankan kesehatan mental.